Militer Amerika Serikat sedang mencari cara untuk mendapatkan drone hunter-killer yang jauh lebih murah. Langkah ini muncul setelah mereka kehilangan armada Reaper senilai miliaran dolar dalam konflik dengan Iran. Drone MQ-9 Reaper yang selama ini jadi andalan ternyata rentan dan mahal untuk diganti dalam jumlah besar.
Pentagon kini mendorong pengembangan platform baru yang bisa diproduksi cepat dan tidak membebani anggaran. Fokus utamanya adalah menciptakan drone yang tetap mampu membawa senjata dan sensor canggih, tapi dengan biaya per unit yang jauh lebih rendah dibanding Reaper.
Salah satu analisis yang muncul adalah bahwa perang modern semakin menuntut jumlah drone yang banyak ketimbang beberapa unit mahal. Jika satu Reaper hilang, kerugiannya bisa mencapai puluhan juta dolar sekaligus. Drone murah memungkinkan militer mengorbankan beberapa unit tanpa menguras anggaran secara signifikan.
Analisis kedua berkaitan dengan pergeseran strategi. AS selama ini mengandalkan Reaper untuk misi pengintaian dan serangan jarak jauh di Timur Tengah. Namun dengan munculnya ancaman pertahanan udara yang lebih baik, mereka perlu armada yang bisa diganti dengan cepat tanpa harus menunggu proses pengadaan yang panjang.
Industri pertahanan Amerika juga mulai melihat peluang untuk mengadaptasi teknologi komersial ke dalam desain drone militer. Komponen yang sudah matang di pasar sipil bisa menekan biaya produksi sekaligus mempercepat waktu pengembangan.
Langkah Pentagon ini juga mencerminkan kesadaran bahwa konflik di masa depan kemungkinan besar akan melibatkan pertempuran drone versus drone dalam skala besar. Memiliki armada yang besar dan murah menjadi keunggulan logistik yang penting.
Secara keseluruhan, pencarian drone hunter-killer yang lebih terjangkau menandai perubahan cara pandang militer AS terhadap peperangan udara tak berawak. Fokus bergeser dari kualitas tunggal yang mahal menuju kuantitas yang efisien dan mudah diganti.





