AliExpress Kaget Kena Denda Rp10 Triliun gegara Abaikan Perintah UE

Business106 Views

AliExpress baru saja menerima denda yang cukup bikin kaget, yaitu sebesar 625 juta dolar AS atau setara Rp10 triliun lebih. Denda ini dijatuhkan Uni Eropa karena platform tersebut dinilai gagal melakukan perbaikan yang sudah diminta sebelumnya terkait produk berbahaya.

Menurut keterangan resmi, AliExpress mengaku terkejut dengan besarnya sanksi ini. Mereka menyebutnya sebagai denda DSA terbesar yang pernah ada sampai sekarang. DSA sendiri adalah aturan baru Uni Eropa yang mewajibkan platform digital lebih bertanggung jawab soal keamanan barang yang dijual.

Kasus ini bermula dari temuan produk mainan anak yang tidak aman serta kosmetik berbahaya yang masih beredar di marketplace. Uni Eropa sudah memberikan perintah perbaikan, tapi perubahan yang dilakukan AliExpress dianggap belum cukup memadai.

Dari sisi analisis, denda ini menunjukkan bahwa Uni Eropa serius menegakkan DSA meski baru berjalan beberapa tahun. Platform e-commerce besar seperti AliExpress yang selama ini lebih fokus ke volume penjualan kini harus benar-benar memprioritaskan sistem moderasi produk.

Selain itu, sanksi ini juga bisa jadi sinyal bagi platform China lainnya yang banyak menjual ke pasar Eropa. Mereka mungkin perlu mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk mematuhi regulasi lokal, bukan hanya mengandalkan proses otomatis yang seringkali kurang akurat.

Bagi pengguna di Indonesia yang sering belanja di AliExpress, denda ini mungkin tidak langsung berpengaruh. Namun secara tidak langsung, platform bisa memperketat aturan penjualan barang tertentu agar tidak kena masalah serupa di masa depan.

AliExpress sendiri menyatakan akan terus bekerja sama dengan regulator Eropa. Mereka berjanji memperbaiki sistem penghapusan produk berisiko lebih cepat. Langkah ini penting karena DSA memberikan wewenang besar kepada otoritas untuk memberikan sanksi berulang jika pelanggaran terus terjadi.

Secara keseluruhan, kasus AliExpress ini menjadi contoh nyata bahwa aturan digital di Eropa tidak main-main. Platform yang mengabaikan perintah perbaikan bisa kehilangan ratusan juta dolar hanya dalam satu keputusan.